Tampilkan postingan dengan label Seni dan Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni dan Budaya. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 September 2010

Download Lagu-lagu Sunda - Part 01

Yang mau mengunduh lagu-lagu Sunda, silahkan menuju ke TKP.

hatur nuhun ka Kang Kusmayadi Ayi,

Selasa, 21 September 2010

Perkembangan Calung

Belum diketahui mengenai data yang pasti mengenai awal kelahirannya, berdasarkan bentuknya calung di Jawa Barat terdiri dari empat macam bentuk, yaitu Calung Rantay, Calung Tarawangsa, Calung Gamelan dan Calung Jingjing .

Kesenian calung merupakan sajian karawitan dalam bentuk sekar-gending, yaitu mempergunakan sekar (vokal) dan gending (instrumen) dalam penyajiannya. Alat musik calung adalah salah satu alat musik Sunda yang terbuat dari bambu , namun tidak semua jenis bambu bisa dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan calung, biasanya bambu yang berwarna kehitam-hitaman atau biasa disebut awi wulung. Adapun pengertian calung menurut Kamus Umum Basa Sunda adalah ‘tatabeuhan tina awi guluntungan, aya anu siga gambang aya anu ditiir sarta ditakolannana bari dijingjing’ (tetabuhan yang terbuat dari bambu, ada yang seperti gambang, ada yang disemat serta ditabuh sambil dijinjing). Sedangkan pengertian lain dari calung adalah seni pertunjukan yang waditra pokoknya mempergunakan calung .

Seni pertunjukkan calung saat ini telah mengalami banyak perkembangan dalam penyajiannya dan bentuknya. Pada awal keberadaannya kesenian calung berfungsi sebagai sarana ritual, yaitu upacara penghormatan terhadap Dewi Sri pada perayaan panen, namun seiring berjalannya waktu, pertunjukan calung kini bergeser fungsi menjadi sarana hiburan bagi masyarakat umum. Hal ini terjadi setelah calung mengalami perubahan dalam pengemasannya. Menanggapi hal tentang perkembangan kesenian, Soedarsono berpendapat bahwa:

‘…………..Pada zaman teknologi modern ini secara garis besar fungsi seni pertunjukan dalam kehidupan manusia bisa dikelompokan menjadi tiga: 1) sebagai sarana upacara, 2) sebagai hiburan pribadi, 3) sebagai tontonan. Meskipun dalam sejarah fungsi tertua dari seni pertunjukan adalah untuk upacara,……………..’(Soedarsono 1985:18).

Setelah mengalami masa perkembangan dalam bentuk dan kemasannya , kesenian calung telah melahirkan banyak grup yang cukup dikenal oleh masyarakat, diantaranya calung UNPAD, calung Ria Buana, calung DAMAS, Layungsari, grup calung Glamour , Jebrag dan banyak lainnya.
Dari beberapa grup calung di atas telah melahirkan para vokalis atau penyanyi calung yang pada prinsipnya memiliki sebuah warna vokal atau ciri yang khas di bandingkan jenis vokal pada karawitan Sunda, seperti pada kawih, tembang, dan sebagainya. Salah satu penyanyi lagu-lagu calung yang cukup dikenal masyarakat hingga kini adalah Hendarso atau Darso. Masyarakat mengenal dengan baik sosok Darso dari gaya yang khas dalam membawakan lagu-lagu yang dinyanyikan. Suara vokal yang disertai ornamentasi-ornamentasi, gaya berpakaian dan sikap dalam bernyanyi seakan-akan menjadi suatu ciri yang khas dan akrab bagi masyarakat. Mengutip ungkapan Yus Wiradiredja dalam Iman Herawandi bahwa : ‘Kelebihan dari grup lain, Calung Darso memiliki penggarapan seni yang baik, terutama penyajian dan pengolahan suaranya belum ada yang menyisihkan’. Hal ini diperkuat oleh pendapat Ubun Kubarsah pada sumber yang sama :

“Grup Calung Darso memiliki identitas pembawaan vocal dari juru sekarnya yaitu Hendarso dalam menyanyikan lagu-lagu, baik karya lagu sendiri atau karya orang lain, teknik vocal khas, bentuk lagu sederhana banyak ornamentasinya. Sehingga setiap lagu yang dibawakan baik lagu sendiri maupun lagu orang lain terasa lagu tersebut memiliki identitas suara Darso” ( Herawandi 1997:6).

Tidak diketahui apa yang melatarbelakangi penampilan Hendarso dalam membawakan setiap lagu yang dinyanyikannya, suaranya, cara berpakaiannya, apakah ia ‘mencontoh’ penampilan dari salah seorang penyanyi yang pernah ada sebelumnya, ataukah ini dapat dipandang sebagai sebuah kreativitas dari seorang Hendarso. Seperti yang di ungkapkan Guilford dalam Deni Hermawan mengenai definisi kreativitas pada dimensi person menyatakan :”Creativity refers to the abilities that are characteristics of creative people” (Kreatifitas diartikan sebagai kemampuan yang merupakan sifat-sifat orang kreatif) . Ataukah kreativitas Darso terbentuk melalui sebuah proses berkesenian, mengacu pada pendapat Munandar yang menyatakan :”Creativity is a process that manifest it self in fluency, in flexibility as well as in originality of thinking” (Kreativitas adalah suatu proses yang tercermin sendiri dalam kelancaran, keluwesan juga keaslian pemikiran) .

copas : punklung

Mengenal Calung

Jika ditinjau dari hasil karya seni, kata “calung” memiliki dua arti, yaitu sebagai alat karawitan (waditra) dan sebagai Seni Pertunjukan.

Pengertian Calung, sesuai dengan apa yang dikemukakan dalam Kamus Umum Basa Sunda, terbitan Lembaga Basa dan Sastra Sunda, artinya “tatabeuhan tina awi guluntungan, aya nu siga gambang, aya nu ditiir sarta ditakolannana bari dijingjing”.

Bahan baku pembuatan calung mempergunakan bambu. Bambu yang biasa dipergunakan untuk membuat calung adalah bambu wulung atau dikenal nama awi wulung yang berwarna hitam atau putih.

Berdasarkan modelnya, calung memiliki ragam bentuk dan jenisnya, diantaranya : Calung Rantay, Gambang Calung, Gamelan Calung dan Calung Jingjing yang saat ini banyak dikenal oleh masyarakat dengan nama Calung saja.

Perangkat calung jingjing dalam bahasan Sarasehan Seni Calung Jawa Barat yang diselenggarakan pada tahun 80-an terdiri dari: Calung Melodi disebut “kingking”, Calung Angkob Panyemen disebut “panempas”, Calung Pangiring disebut “Jongjrong”, Calung Kolotomik disebut “Gonggong” dan Kosrek atau Kolotok yang merupakan alat tambahan. Semua waditra diatas merupakan satu kesatuan dalam seni pertunjukan Calung.

Teknik baku atau dasar membunyikan Calung adalah dipukul dengan mempergunakan alat pukul (ditakol). Tangan kiri memegang sematnya dan tangan kanan memukul batang-batang calung sesuai dengan nada yang diinginkan. Bagian yang dipukul adalah bidang depan (beungeut), sedangkan yang dipukulny pas di tengah-tengah antara ujung puhu dan lubang simpul pada bagian congo.

Ada beberapa motif pukulan dalam memainkan calung, yaitu: dimelodi, dikeleter, dikemprang, diraeh, dicaruk, dirincik, diracek, salancar dan dikotrek.

Oleh karena itu persiapan dalam penataan materi pertunjukan Calung harus direncanakan sebaik-baiknya. Para pemainnya juga harus kreatif dalam upaya meningkatkan keterampilan (skill), serta kemampuan dalam wawasan seni pentas. Harus diperhitungkan pula dengan matang mengenai situasi dan kondisi masyarakat yang akan dihiburnya. Hal lain yang lebih penting selain unsur hiburan, pada dasarnya pertunjukan calung dapat dijadikan alat komunikasi yang mengandung beberapa aspek antara lain penerangan dan pendidikan.*****

copas : sundanet

Calung





Calung adalah alat musik Sunda yang merupakan prototipe (purwarupa) dari angklung. Berbeda dengan angklung yang dimainkan dengan cara digoyangkan, cara menabuh calung adalah dengan mepukul batang (wilahan, bilah) dari ruas-ruas (tabung bambu) yang tersusun menurut titi laras (tangga nada) pentatonik (da-mi-na-ti-la). Jenis bambu untuk pembuatan calung kebanyakan dari awi wulung (bambu hitam), namun ada pula yang dibuat dari awi temen (bambu yang berwarna putih). Pengertian calung selain sebagai alat musik juga melekat dengan sebutan seni pertunjukan. Ada dua bentuk calung Sunda yang dikenal, yakni calung rantay dan calung jinjing.

Calung Rantay

Calung rantay bilah tabungnya dideretkan dengan tali kulit waru (lulub) dari yang terbesar sampai yang terkecil, jumlahnya 7 wilahan (7 ruas bambu) atau lebih. Komposisi alatnya ada yang satu deretan dan ada juga yang dua deretan (calung indung dan calung anak/calung rincik). Cara memainkan calung rantay dipukul dengan dua tangan sambil duduk bersilah, biasanya calung tersebut diikat di pohon atau bilik rumah (calung rantay Banjaran-Bandung), ada juga yang dibuat ancak "dudukan" khusus dari bambu/kayu, misalnya calung tarawangsa di Cibalong dan Cipatujah, Tasikmalaya, calung rantay di Banjaran dan Kanekes/Baduy.

Calung Jingjing

Adapun calung jinjing berbentuk deretan bambu bernada yang disatukan dengan sebilah kecil bambu (paniir). Calung jinjing terdiri atas empat atau lima buah, seperti calung kingking (terdiri dari 12 tabung bambu), calung panepas (5 /3 dan 2 tabung bambu), calung jongjrong(5 /3 dan 2 tabung bambu), dan calung gonggong (2 tabung bambu). Kelengkapan calung dalam perkembangannya dewasa ini ada yang hanya menggunakan calung kingking satu buah, panempas dua buah dan calung gonggong satu buah, tanpa menggunakan calung jongjrong Cara memainkannya dipukul dengan tangan kanan memakai pemukul, dan tangan kiri menjinjing/memegang alat musik tersebut. Sedangkan teknik menabuhnya antar lain dimelodi, dikeleter, dikemprang, dikempyung, diraeh, dirincik, dirangkep (diracek), salancar, kotrek dan solorok.

Perkembangan

Jenis calung yang sekarang berkembang dan dikenal secara umum yaitu calung jinjing. Calung jinjing adalah jenis alat musik yang sudah lama dikenal oleh masyarakat Sunda, misalnya pada masyarakat Sunda di daerah Sindang Heula - Brebes, Jawa tengah, dan bisa jadi merupakan pengembangan dari bentuk calung rantay. Namun di Jawa Barat, bentuk kesenian ini dirintis popularitasnya ketika para mahasiswa Universitas Padjadjaran (UNPAD) yang tergabung dalam Departemen Kesenian Dewan Mahasiswa (Lembaga kesenian UNPAD) mengembangkan bentuk calung ini melalui kreativitasnya pada tahun 1961. Menurut salah seorang perintisnya, Ekik Barkah, bahwa pengkemasan calung jinjing dengan pertunjukannya diilhami oleh bentuk permainan pada pertunjukan reog yang memadukan unsur tabuh, gerak dan lagu dipadukan. Kemudian pada tahun 1963 bentuk permainan dan tabuh calung lebih dikembangkan lagi oleh kawan-kawan dari Studiklub Teater Bandung (STB; Koswara Sumaamijaya dkk), dan antara tahun 1964 - 1965 calung lebih dimasyarakatkan lagi oleh kawan-kawan di UNPAD sebagai seni pertunjukan yang bersifat hiburan dan informasi (penyuluhan (Oman Suparman, Ia Ruchiyat, Eppi K., Enip Sukanda, Edi, Zahir, dan kawan-kawan), dan grup calung SMAN 4 Bandung (Abdurohman dkk). Selanjutnya bermunculan grup-grup calung di masyarakat Bandung, misalnya Layung Sari, Ria Buana, dan Glamor (1970) dan lain-lain, hingga dewasa ini bermunculan nama-nama idola pemain calung antara lain Tajudin Nirwan, Odo, Uko Hendarto, Adang Cengos, dan Hendarso.

Perkembangan kesenian calung begitu pesat di Jawa Barat, hingga ada penambahan beberapa alat musik dalam calung, misalnya kosrek, kacapi, piul (biola) dan bahkan ada yang melengkapi dengan keyboard dan gitar. Unsur vokal menjadi sangat dominan, sehingga banyak bermunculan vokalis calung terkenal, seperti Adang Cengos, dan Hendarso.

copas : kasundaan

Wangunan Sunda

Wangunan Sunda nyaéta wangunan anu aya tur diaku salaku tempat cicing, usaha, tur pamaréntah di tatar Sunda. Cirina nyaéta konsép wangunan anu luyu jeung kaayaan alam jeung pangabutuh balaréa di tatar Sunda.

Wangun Suhunan jeung Adegan

Tipologi (rupa wangunan), utamana ditoong di rupa suhunanana. Ieu kabéh dina modél aslina, panggung.

Salah sahiji bentuk wangunan imah tradisional Sunda, di-scan tina buku carita Rusdi jeung Misnem.
  • Suhunan jolopong: suhunan nu lempeng. Mun basa indonesia mah, atap pelana. Siga pelana kuda. Kaci ogé disebut regol.
  • Jogo anjing: upami hoyong terang rupana siga kumaha, pilari heula anjing, terus sina jogo. mun teu daékeun, olo. Tah, mun geus jogo, siga modél imah nu ieu, atawa tibalik, modél imah kieu, siga anjing keur jogo diténjo ti gigir. Suhunan hareup (nu siga bangus anjing) ngiuhan émpér imah.
  • Badak heuay: nu hoyong apal kumaha wanda imah nu siga badak heuay, walah hésé ieu mah, kudu nganjang ka Ujung Kulon heula. Ari dedegna mah rada deukeut ka jogo anjing, ngan luhureun sirahnya aya ceulian-susuhunan tambahan, kahareup.
  • Parahu kumureb: nya siga tangkuban parahu pisan, trapesium tibalik di Tomo Sumedang, disebutna jubleg nangkub.
  • Julang ngapak: julang teh ngaran manuk. dipaké ku Maclain Point jang nyieun aula kulon-aula wétan ITB. Nya manéhna nu nyebut ieu model téh ciri suhunan Sunda Besar. Julang ngapak mun diténjo ti hareup, suhunan kénca katuhuna siga jangjang manuk julang-suhunanana opat nyambung nu di sisi nyorondoy. Sambunganana di tengah, maké tambahan siga gunting muka di punclutna.
  • Buka palayu: suhunan sigan imah Betawi aya émpér panjang dihareup.
  • Buka pongpok: rada mirip buka palayu, ngan pantona dirobah ka arah jalan.






















Rupa-rupa Wangunan jeung Pamakéanana

  • Umum:
    • gedong: imah alus tur badag anu biasana ditémbok
    • joglo: adegan imah leutik basajan
    • balé kambang: iimahana anu diwangun disaluhureun balong, jsb. ('kambang' --> 'ngambang')
    • poporogok: imah siga saung, leutik tapi lumayan
    • pakuwon: pakarangan tur imah nu sorangan
    • ranggon: saung anu luhur pisan kolongna atawa anu diwangun dina tangkal kai nu luhur
    • régol: panto gedé lawang pakarangan (en:gate, de: tor)
    • saung: adegan leutik, biasana teu didindingan, ayana di sawah, kebon, paranti reureuh.
  • Pamaréntahan:
    • babancong: wangunan leutik di sisi alun-alun baheula, panggung paragi gegedén, ayeuna mah siga tempat nu nongton kelas VIP di stadion.
    • balandongan: adegan samentara pikeun narima sémah dinu hajat atawa tempat hiburan.
    • balé désa: kantor pamong désa
    • balé kota: kantor walikota atawa bupati
    • balé watangan: pangadilan
    • gedong songko: imah bupati baheula
    • kadaton, karaton
    • pandapa: tepas lega bagian hareup gedong kawadanaan, balé kota, jsb.
    • kaputrén: bumi jeung pasaréan putri raja
    • kaputran: bumi jeung pasaréan putra raja
    • bénténg: adegan anu tohaga, biasana ngurilingan kota pikeun nahan panarajang musuh
    • bui, panjara: paragi ngerem jelema nu meunang hukuman.
  • Transportasi:
    • hanggar: minangka garasi pikeun kapal udara
    • stasion: pangeureunan karéta
    • halteu: pangeureunan beus
  • Tatani jeung Dagang:
    • jongko, warung: tempat dagang, di pasar biasana eusina pinuh ku jongko
    • palalangon: saung luhur di leuweung atawa di huma paranti ngintip sato atawa nungguan huma
    • leuit: gudang tempat nyimpen paré
    • gosali: tempat gawéna panday
    • bédéng: imah-imah atawa adegan leutik paragi nu digarawé proyék wangunan jeung di kebon
  • Sato:
    • pakandangan: kandang gedé atawa nu loba kandang
    • gedogan, istal: kandang kuda
    • karapyak: kandang munding atawa sapi nu dikurilingan ku pager
    • pagupon: kandang japati
    • paranjé: kandang hayam
  • Ibadah:
    • langgar, tajug
Copas : http://su.wikipedia.org/wiki/Wangunan_Sunda
gambar : http://buncir.blogspot.com/2008/02/imah-adat-sunda-buhun.html

ARSITEKTUR IMAH SUNDA

BUBUKA

Upama urang miang ka Bali, Toraja, Minangkabau, Batak atawa Irian, kalawan gampang urang bisa ningal imah atawa wangunan anu has daerahna. Malah hal ieu jadi ciri mandiri (trade mark) pikeun daerahna masing-masing. Bangsa asing nu datang ka Indonesia, kacida katajina ku rupa-rupana arsitektur imah nu aya di Indonesia.

Naha ari Tatar Sunda mibanda arsitektur imah?

Tangtu aya jeung miboga wangun imah anu ngabogaan ciri khas Tatar Sunda, saupamana wae ti mimiti imah anu pangsaderhanana tepi ka anu cukup rumit nyieunna. Conto wangunan moderen anu dasar arsitekturna ngagunakeun arsitektur Sunda pangpangna wangun suhunanana, di antarana suhunan Kampus ITB jeun sabagian suhunan Gedong Sate. Wangunan Pendopo Kabupaten Bandung jeung sababaraha Wangunan Pendopo anu aya di Tatar Sunda mah ilaharna ngagunakeun suhunan anu ngajadi ciri Wangunan Arsitektur Imah Sunda.

SAWATARA TEMPAT ANU MASIH KENEH AYA IMAH ARSITEKTUR SUNDA

Upama dipapay leuwih jauh conto arsitektur nu asli Sunda tur dina wangunan nu masih keneh saderhana, nya eta wangunan imah di:

- Baduy (Banten Kidul)

- Kampung Naga (Tasikmalaya)

- Kampung Pulo (Garut)

- Kampung Genereh (Sumedang)

- Kampung Palasah (Majalengka)

- Kampung Gabus (Cirebon)

Di Baduy, Kampung Naga jeung Kampung Pulo, beunang disebutkeun wangunan imah-imahna masih keneh asli tradisional. Tapi di Kampung Genereh, Palasah jeung Gabus mah, ngan kari hiji-dua bae, kitu oge kaayanana geus loba anu ruksakna.

CIRI-CIRI JEUNG FUNGSI ARSITEKTUR IMAH SUNDA TRADISIONAL

Nurutkeun panalungtikan tim ahli anu dijejeran ku Prof. Dr. Kusnaka Adimiharja, Spk, gawe bareng jeung Kanwil Pariwisata Propinsi Jawa Barat, ciri-ciri jeung fungsi imah Sunda teh bisa disawang tina:

- Aspek Sosial Budaya jeung Arsitektur

- Ciri Wangunan anu Has

Kateranganana upama dipedar leuwih jelas mah kieu:

Aspek Sosial Budaya jeung Arsitektur

Keur urang Sunda, imah teh lain ngan ukur pikeun tempat cicing, atawa tempat istirahat wungkul, tapi oge boga harti anu leuwih lega, nyakup sosial, ekonomis jeung jadi puseur atikan budaya kaasup pendidikan moral, sarta dianggap suci (sakral). Nya di jero imah pisan tumuwuhna hubungan sosial (sosialisasi) anggota kulawarga. Di imah pisan tempat migawe hal-hal nu sipatna ekonomis (home industri). Di imah pisan hal-hal nu tumali jeung atikan kabudayaan ku indung-bapa diajarkeunana ka anak-anakna. Kitu deui imah teh dianggap suci (sakral), disaruakeun jeung alam mikro (bumi sok disebut imah), nu dianggap miniaturna tina makro (dunya = anu oge disebut bumi). Jadi bumi (imah) teh dianggap sarua jeung bumi (dunya).

Eta sababna upama hiji imah dipake hal-hal nu teu hade atawa dipake hal-hal anu kotor, bakal dianggap ngaruksak kasakralan imah, imahna jadi “sial”. Ceuk urang Sunda mah imah teh mangrupa tempat anu suci nu kudu dijaga kasucianana.

Ciri Wangunan anu Has

Ciri has imah Sunda nyaeta panggung (aya kolongna). Bedana jeung imah panggung seler bangsa sejen (Batak, Dayak, Minangkabau), nyaeta luhurna kolong imah Sunda mah henteu pati luhur (40-60cm), siga kolong imah urang Jepang. Upama aya imah di Tatar Sunda anu lain panggung, tapi ngupuk saperti di daerah Tatar Kaler eta mah pangaruh Budaya Jawa. Hateupna (suhunan) imah di Tatar Sunda rupa-rupa aya Julang Ngapak, Jogo Anjing, Heuay Badak, Jure Limasan jeung Leang-Leang. Di antara nu disebutan bieu anu has Sunda mah nyaeta nu disebut suhunan Julang Ngapak (Sulah Nyanda, Julang Wirangga), ari nu sejenna mah kapangaruhan ku kabudayaan batur (suhunan Leang-Leang kapangaruhan ku Arsitektur Cina, Limasan pangaruh Jawa).

Ciri sejenna nya eta ayana capit hurang (cagak gunting), nyaeta babagian tungtung hateup (suhunan) anu dirupakeun cagak atawa bisa oge saperti tanduk munding, malah aya anu dibuleudkeun (lingkaran), biasana tina kai, atawa awi anu dibulen ku injuk. Gunana cagak gunting diantarana pikeun nyegah cai hujan bocor ka jero imah, jadi saperti fungsina talang. Jaba ti eta cagak gunting teh dianggap oge ngandung tanaga gaib pikeun nyegah pangaruh negatip.

Ari wangun (bentuk) imah, biasana pasagi panjang. Latena make palupuh awi, bilikna tina awi dianyam atawa ku sasag. Rangkay imah dijieunna tina kai. Make tatapakan tina batu. Rohangan imah dibagi nurutkeun babagian anu husus. Nyaeta bagian hareup tepas (emper) pikeun ngumpulna semah lalaki. Enggon (kamar sare) jeung bagean dapur (hawu jeung padaringan gudang tempat neundeun beas = pabeasan), bagean tukang ieu mah pikeun awewe. Pangpangna padaringan (goah, pabeasan) kacida dilarangna lalaki asup ka daerah eta.

PANUTUP

Konsep Arsitektur imah Sunda nu mibanda konsep dasar nu filosofis, kacida hadena upama bisa ditransformasikeun kana arsitektur imah nu moderen, nu luyu jeung kapribadian bangsa. Tangtu bae kudu diluyukeun jeung kamajuan teknologi bari henteu lesot tina pandangan hirup jeung filsafah kabudayaan Sunda. Saenyana henteu ngan dina arsitektur bae ayana falsafah Sunda teh tapi oge dina aspek-aspek budaya sejenna, upamana bae dina seni Cianjuran, Tari, Penca, Tata Boga (kadaharan), Tata Busana, jeung dina rupa rupa seni budaya sejenna. Urang sarerea, pangpangna para nonoman kudu leukeun neangan pribadi falsafah karuhun urang, sangkan bisa katransformasikeun dina kahirupan moderen. Muga bae pareng kawujudkeun.

(LISDA - sumber diambil dari berbagai literature)

copas di : http://www.sundanet.com/?p=23

PERAN SANGKURIANG DAN DANGHYANG SUMBI DALAM LEGENDA GUNUNG TANGKUBANPARAHU

Legenda tentang terjadinya Gunung Tangkubanparahu sangat dikenal di Tatar Sunda, disebut pula sebagai sasakala terjadinya Talaga Bandung atau dongeng Sangkuriang. Adapun tokoh Danghyang Sumbi yang seharusnya menjadi esensi maknawi dalam mitos ini sering tersisihkan oleh peran Sangkuriang - puteranya. Wacana yang tersaji kali ini adalah upaya untuk mengarifi nilai-nilai mitos yang terkandung dalam legenda gunung Tangkubanparahu, sehingga mempunyai nilai tambah bagi pemaknaan kita terhadap wawasan budaya lokal.

MITOS SEBAGAI ACUAN PANDANGAN HIDUP

Berbincang tentang mitos akan berkaitan erat dengan legenda, cerita, dongeng semuanya termasuk kelompok folklore. Mengenai mithos C.A. van Peursen (1992:37) mengatakan sebagai sebuah cerita (lisan) yang memberikan pedoman dan arah tertentu kepada sekelompok orang. Inti dari mitos adalah lambang-lambang yang menginformasikan pengalaman manusia purba tentang kebaikan-kejahatan, perkawinan dan kesuburan, dosa dan proses katarsisnya. Sedangkan Rene Wellek & Austin Warren (1989) menyebutnya sebagai cerita anonim mengenai penjelasan tentang asal mula sesuatu, nasib manusia, tingkah laku dan tujuan hidup manusia serta menjadi alat pendidikan moral bagi masyarakat pendukung kebudayaan tersebut.

Mengacu kepada pendapat di atas ternyata mitos yang dikandung dalam legenda adalah sumber pengetahuan mengenai kehidupan manusia pada masa lampau dalam segala aspeknya. Disusun dalam bentuk cerita sastra (sastra lisan) sebagai alat transformasinya, sebab bentuk cerita lisan mempunyai pola struktur dan alur yang cukup ajeg. dalam menuntun ingatan orang sehingga mudah untuk seseorang menuturkannya kembali.

HERMENEUTIKA ILMU TENTANG PENAFISRAN

Kegiatan manusia tidak terlepas dari kemampuan untuk menafsirkan terhadap apa pun yang dialaminya. Hasilnya adalah didapatkannya arti dan makna dari yang ditafsirkannya. Arti adalah hubungan antara sesuatu dengan yang melingkunginya, hubungan teks dengan konteks (Saini KM, 2004). Adapun makna adalah hubungan arti dengan nilai esensial yang dikandungnya. Kemampuan mengartikan dan memaknai sesuatu dalam budaya Sunda disebut dengan kemampuan memanfaatkan Panca Curiga (lima senjata/ilmu), yaitu kemampuan untuk menafsirkan secara: silib, yaitu memaknai sesuatu yang dikatakan tidak langsung tetapi dikiaskan pada hal lain (allude); sindir yaitu penggunaan susunan kalimat yang berbeda (allusion); simbul yaitu penggunaan dalam bentuk lambang (symbol, icon, heraldica); siloka adalah penyampaian dalam bentuk pengandaian atau gambaran yang berbeda (aphorisma) dan sasmita adalah berkaitan dengan suasana dan perasaan hati (depth aporisma)

Dalam tulisan ini pun penulis menggunakan konsep hermeneutika untuk mencoba menarik arti dan makna yang dikandung dalam legenda Gunung Tangkubanparahu dengan segala aspek yang dikandungnya.

Kaidah lain untuk melakukan analisis, penulis memanfaatkan leksikografi (cara menuliskan kata); etimologi (tentang asal-usul kata), semantik (tentang arti kata) dan semiotika (tentang arti dan makna lambang).

BEBERAPA KARYA SASTRA YANG BERTEMAKAN LEGENDA GUNUNG TANGKUBANPARAHU

Legenda Gunung Tangkubanparahu dengan tokoh-tokohnya telah mengilhami para sastrawan untuk mewujudkannya dalam karya sastra seperti dalam:

  • Bentuk Cerita : Sang Koeriang, A.C. Deenik diambil dari Pleyte. Tt. - Gunung Tangkuban Parahu, R. Satjadibrata, 1946 - Babad Sangkuriang dalam Naskah Sunda Lama Kelompok Babad, Edi S. Ekadjati, 1983.
  • Bentuk Gending Karesmen (opera) : Sangkuriang Larung, Hidayat Suryalaga, 1973.
  • Bentuk Sajak : Sangkuriang, Hasan Wahyu Atmakusumah, 1955 - Sang Kuriang, Kusnadi Prawirasumantri, 1992 - Ngabendung Situ, Ajip Rosidi, 1962 - Sang Kuriang, Beni Setia, 1972 - Tapak Sangkuriang, Dadan Bahtera, 1989- Sangkuriang Kabeurangan, Wahyu Wibisana, 1992
  • Bentuk Skripsi : Pergeseran Fungsi Mitos Sangkuriang dari Cerita Sangkuriang ke dalam Sajak Sunda, Suhandi, Fakultas Sastra Unpad, 1994.

Semua karya sastra di atas tidaklah sama dalam mengartikan dan memaknai legenda Tangkubanparahu atau tokoh pemerannya. Tergantung kepada konsep hermeunetika yang diacu oleh penulisnya. Walau demikian alur ceritanya tidak banyak berubah.

Secara singkat alur ceritanya sebagai berikut:

Raja SUNGGING PERBANGKARA pergi berburu, di tengah hutan Sang Raja kencing dan tertampung dalam tempurung kelapa. Seekor babi hutan betina bernama WAYUNGYANG yang tengah bertapa ingin menjadi manusia meminum air kencing tadi. Wayungyang hamil, melahirkan seorang bayi cantik.

Bayi cantik itu dibawa ke keraton ayahnya dan diberi nama DAYANG SUMBI alias RARASATI. banyak para raja yang meminangnya, tetapi seorang pun tidak ada yang diterima. Akhirnya para raja saling berperang di antara sesamanya. Dayang Sumbi pun atas permitaannya sendiri mengasingkan diri di sebuah bukit ditemani seekor anjing jantan yaitu si TUMANG.

Ketika sedang asyik bertenun, TOROPONG (torak) yang tengah digunakan bertenun kain terjatuh ke bawah. Dayang Sumbi karena merasa malas, terlontar ucapan tanpa dipikir dulu, dia berjanji siapa pun yang mengambilkan torak yang terjatuh bila berjenis kelamin laki-laki, akan dijadikan suaminya. Si Tumang mengambilkan torak dan diberikan kepada Dayang Sumbi. Dayang Sumbi akhirnya melahirkan bayi laki-laki diberi nama SANGKURIANG.

Ketika berburu di hutan Sangkuriang menyuruh si Tumang untuk memburu babi betina Wayungyang. Karena si Tumang tidak menurut, lalu dibunuhnya. Hati si Tumang oleh Sangkuriang diberikan kepada Dayang Sumbi, lalu dimasak dan dimakannya. Setelah Dayang Sumbi mengetahui bahwa yang dimakannya adalah hati si Tumang, kemarahannya pun memuncak serta merta KEPALA Sangkuriang dipukul dengan senduk sehingga luka. Sangkuriang pergi mengembara mengelilingi dunia.

Setelah sekian lama menuju ke arah Timur akhirnya sampailah di arah Barat lagi dan tanpa sadar telah sampai di tempat Dayang Sumbi, tempat ibunya berada. Sangkuriang tidak mengenal bahwa putri cantik yang ditemukannya adalah Dayang Sumbi. Terjalinlah kisah kasih di antara kedua insan itu. Tanpa sengaja Dayang Sumbi mengetahui bahwa Sangkuriang adalah puteranya, dengan tanda luka di kepalanya. Walau demikian Sangkuriang tetap memaksa untuk menikahinya.

Dayang Sumbi meminta agar Sangkuriang membuat PERAHU dan TALAGA (danau) dalam waktu semalam dengan membendung sungai CITARUM. Sangkuriang menyanggupinya. Maka dibuatlah PERAHU dari sebuah pohon yang tumbuh di arah TIMUR, tunggul/pokok pohon itu berubah menjadi gunung BUKIT TUNGGUL, rantingnya ditumpukkan di sebelah BARAT dan mejadi gunung BURANGRANG Ketika bendungan hampir selesai, Dayang Sumbi memohon kepada Hyang Maha Gaib agar maksud Sangkuriang tidak terwujud.

Dayang Sumbi menebarkan irisan BOEH RARANG (kain putih hasil tenunannya), sehingga ketika itu pula fajar pun terbit. Sangkuriang menjadi gusar, dipuncak kemarahannya, bendungan yang berada di SANGHYANG TIKORO dijebolnya, sumbat aliran sungai Citarum dilemparkannya ke arah timur dan menjelma menjadi Gunung MANGLAYANG.

Air Talaga Bandung pun menjadi surut kembali. Perahu yang dikerjakan dengan bersusah payah ditendangnya ke arah utara dan berubah wujud menjadi GUNUNG TANGKUBANPARAHU. Sangkuriang pun mengejar Dayang Sumbi yang mendadak menghilang di GUNUNG PUTRI dan berubah menjadi setangkai BUNGA JAKSI. Adapun Sangkuriang setelah sampai di sebuah tempat yang disebut dengan UJUNGBERUNG akhirnya menghilang ke alam gaib (NGAHIYANG).

ARTI SERTA MAKNA LEGENDA GUNUNG TANGKUBANPARAHU DENGAN SEGALA ASPEK YANG DIKANDUNGNYA

Seperti pada awal tulisan, bahwa legenda bukanlah kisah historis, tetapi berupa mitos yang menjadi acuan hidup masyarakat pendukung kebudayaannya. Demikian pula yang terjadi pada legenda Gunung Tangkubanparahu. Di bawah ini saya susun nama dan tempat serta aspek lainnya yang terdapat dalam legenda tsb, yaitu: Sungging Perbangkara, babi hutan Si Wayungyang, Dayang Sumbi atau Rarasati, anjing Si Tumang, Sangkuriang, taropong (torak), Citarum, Sanghyang Tikoro, Gunung Putri, Gunung Manglayang, Ujungberung, kembang Jaksi, boeh rarang, Gunung Bukit Tungggul, Gunung Burangrang Gunung Tangkuban Parahu dan Talaga Bandung.

Telah disinggung di atas, bahwa banyak penulis yang memberi arti dan makna terhadap legenda ini. Pada kesempatan sekarang penulis mencoba untuk membuat penasiran arti dan makna menurut konsep nilai-nilai intrinsik pandangan hidup “urang Sunda” yang terkandung dalam alur cerita dan arti-makna dari setiap kata-kata kunci. Pemaknaan ini pun telah dikaji-banding dengan nilai-nilai intrinsik yang terkandung dalam cerita lama (pantun) yang dianggap sakral yaitu Cerita Pantun Lutung Kasarung dan Mundinglaya di Kusuma. Di bawah ini disertakan deskripsi mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan legenda gunung tangkubanparahu:

  • SUNGGING PERBANGKARA. Artinya : Sungging = ukiran,ornamen. Perbangkara (Prabhangkara) = Prabha = cahaya. > ‘ng = penanda hormat, honorifik. > kara = matahari. Maknanya ” Penanda dari kebaikan/kebenaran sebagai cahaya pencerahan bagi yang menyimaknya”
  • Babi hutan WAYUNGYANG. Artinya: Wayungyang > w(b)ayeungyang = perasaan yang tidak tenteram, gundah gula. Maknanya: Seseorang yang masih berada dalam sifat kehewanan tetapi telah mulai bimbang dan menginginkan menjadi seorang manusia seutuhnya (berperi-kemanusiaan).
  • DAYANG SUMBI (DANGHYANG). Artinya : > Dang = penanda hormat, honorific. Yang < hyang =" gaib."> Sumbi = 1) tendok = alat untuk menusuk hidung kerbau agar menurut. 2) Bagian ujung terdepan dari perahu sebagai penunjuk arah dalam berlayar. Maknanya: Petunjuk gaib sebagai kendali manusia dalam menentukan arah dalam melayari kehidupannya. Bisa dimaknai pula sebagai kata hati, nurani yang mendapat pencerahan hidayah Allah Swt.
  • RARASATI nama lain dari Dayang Sumbi. Artinya : > Raras = perasaan yang sangat halus. > ati = hati, qalbu. Maknanya: Hati atau qalbu yang penuh dengan kehalusan budi karena mendapat pancaran sinar Ilahi.
  • Si TUMANG. Artinya: > tumang = 1) Peti yang tertutup (b. Kawi), 2) mangmang = sumpah (b.Kawi) tu-mang-mang = orang yang terkena sumpah karena waswas. Maknanya: karakter seseorang yang selalu asal bersumpah, waswas, akhirnya termakan sumpahnya sendiri, hatinya seperti peti yang tertutup rapat tidak mendapat pencerahan.
  • SANGKURIANG. Artinya: > 1) Sang = penanda hormat, honorifik. > Kuriang < kuring =" saya," sang =" penanda"> Kuriang < hyang =" ego" sangkuriang =" Jiwa">
  • TAROPONG. Artinya : 1) Alat bertenun dari sepotong bambu kecil (tamiang) tempat benang pakan (torak); 2) Alat untuk melihat sesuatu agar lebih jelas (teropong). Maknanya: Kegiatan (semangat) manusia dalam menata perilaku kehidupan agar terusun tertib sesuai dengan kualitas dirinya serta mampu melihat dengan jelas alur (visi) kehidupannya.
  • Sungai CITARUM. Artinya: > Ci < cai =" air."> Tarum = sejenis tumbuhan, daunnya untuk memberi warna indigo tua (hampir hitam) pada kain/benang tenun. Maknanya: Kehidupan adalah seperti air mengalir dalam perjalanannya akan mengalami beragam celupan kehidupan, kebahagiaan, keprihatinan dan juga hal-hal negatif lainnya sebagai ujian keteguhan hatinya.
  • SANGHYANG TIKORO. Artinya: > Sang = penanda hormat, honorifik. > Hyang = gaib. >Tikoro = saluran di leher untuk bernafas dan berbicara (tenggorokan) atau saluran di leher untuk makan (kerongkongan). Maknanya: Kemampuan manusia dalam berbicara tentang apa pun yang baik atau pun yang jelek serta sering dilalui makanan entah yang halal atau yang haram.
  • Gunung PUTRI. Artinya > Putri = gadis, wanita cantik jelita, bangsawan. Maknanya: Karakter manusia yang dihiasi nilai keindahan dan cinta kasih. Dimaknai sebagi sifat kewanitaan (feminim, jamalliyah, rohimmi) yang penuh rasa kasih sayang.
  • Gunung MANGLAYANG. Artinya: > Manglayang = 1) ngalayang, melayang. 2) Mang-layang > palayangan = Saluran untuk pembuangan air kolam/talaga. Maknanya : Kemampuan manusia untuk menguras dan membersihkan dirinya dari karakter yang kotor.
  • UJUNGBERUNG. Artinya: > Ujung = akhir. >berung > ngaberung = menurutkan hawa nafsu. Maknanya : Berakhirnya gejolak hawa nafsu yang negatif.
  • Kembang JAKSI . Artinya: 1) Jaksi > bisa dimaknai jadi + saksi . 2) Jaksi = bunga sejenis pohon pandan. Maknanya: Segala sesuatu yang dikerjakan seseorang akhirnya akan menjadi saksi pula bagi dirinya.
  • BO’EH RARANG. Artinya : > Bo’eh = kain kafan. > rarang = suci, mahal. Maknanya: Semuanya akan berakhir bila satu saat mau tidak mau harus memakai kain kafan yang suci, yaitu datangnya waktu kematian mungkin secara fisik atau secara psikis.
  • Gunung BUKIT TUNGGUL. Artinya : > Bukit = Bentuk gunung yang lebih kecil. > Tunggul = pokok pohon. Maknanya: Siapapun orangnya, kaya-miskin, pembesar atau pun rakyat kecil semuanya mempunyai pokok sejarah dirinya (leluhur) dan juga mempunyai pokok jati dirinya.
  • Gunung BURANGRANG. Artinya > Burangrang > Bukit + rangrang. > rangrang = ranting. Maknanya : Siapa pun orangnya tetap akhirnya akan ada sangkut pautnya dengan keturun dan masyarakat yad. yang pada gilirannya semuanya akan hilang ditelan masa (B.S ngarangrangan).
  • Gunung TANGKUBANPARAHU. Artinya: >Tangkuban = tertelungkup, menelungkup. > Parahu = perahu. > Gunung Tangkubanparahu = gunung yang bentuknya seperti perahu yang tertelungkup. Maknanya: Dalam kosmologi Sunda, gunung dimaknai sebagai tubuh manusia. Gunung Tangkubanparahu dimaknai sebagai manusia yang sedang menelungkupkan dirinya dan itu menandakan suasana hati yang sedang bingung penuh penyesalan.
  • TALAGA BANDUNG. Artinya: > talaga = danau. >bandung = 1) perahu atau dua buah rakit yang disatukan dan di atasnya dibuat tempat berteduh. 2) bandung > bandung + an = memperhatikan, menyimak. Maknanya: Talaga dimaknai sebagai alam kehidupan di dunia ini. Talaga Bandung = Dalam kehidupan di dunia ini kita ibarat perahu yang dirakit berpasangan dengan sesama makhluk lain, seyogyanya dapat membangun kehidupan bersama, yaitu kehidupan yang saling memperhatikan, silih asih, silih asah dan silih asuh, interdependency (saling ketergantungan yang harmonis), equaliter ( setara di depan hukum) dan egaliter (setara di dalam kehidupan)

KESIMPULAN YANG BISA KITA MAKNAI

Bila kita runut seluruh informasi di atas, maka akan ditemukan alur kearifan pandangan hidup masyarakat Sunda yang terkandung dalam legenda Gunung Tangkubanparahu. Kearifan yang dibungkus dengan cerita legenda ini dapat menjadi acuan hidup bagi siapa pun dalam melayari keberadaannya baik secara manusia lahiriah (fisik) maupun manusia transendental (ruhi).

Di bawah ini dirangkai kembali secara ringkas alur legenda tsb. semoga dapat memperjelas arti dan makna yang dikandungnya:

Legenda atau Sasakala Gunung Tangkubanparahu dimaksudkan sebagai cahaya pencerahan (= Sungging Perbangkara) bagi manusia yang masih bimbang akan keberadaan dirinya dan berkeinginan untuk menemukan jatidiri kemanusiaanya ( = Wayungyang).

Hasil yang diperoleh dari pencariannya ini akan melahirkan kata hati (nurani) sebagai kebenaran sejati (= Danghyang Sumbi, Rarasati); tetapi bila tidak disertai dengan kehati-hatian dan kesadaran penuh/eling (= taropong), maka dirinya akan dikuasai dan digagahi oleh rasa kebimbangan yang terus menerus (= digagahi si Tumang) dan akan melahirkan ego-ego yang egoistis, yaitu jiwa yang belum tercerahkan (= Sangkuriang). Ketika Sang Nurani termakan lagi oleh kewaswasan (= Danghyang Sumbi memakan hati si Tumang) maka hilanglah kesadaran yang hakiki.

Rasa menyesal yang dialami Sang Nurani dilampiaskan dengan dipukulnya kesombongan rasio Sang Ego (= kepala Sangkuriang dipukul). Tentu saja kesombongannya pula yang mempengaruhi Sang Ego untuk menjauhi dan meninggalkan Sang Nurani. Keangkuhan rasio yang telah lelah mencari ilmu dengan mengelilingi seantero jagat, ternyata kembali ke titik awal kehidupannya. Akhirnya menemukan Sang Nurani yang secara sadar atau pun tidak tetap dicarinya (= Pertemuan Sangkuriang dengan Danghyang Sumbi). Walau demikian ternyata penyatuan antara Sang Ego Rasio (= Sangkuriang) dengan Sang Nurani yang tercerahkan (= Danghyang Sumbi), tidak semudah yang diperkirakan oleh Sang Ego. Berbekal ilmu pengetahuan yang telah dikuasainya Sang Ego (= Sangkuriang) harus mampu membuat suatu kehidupan sosial yang dilandasi kasih sayang, interdependency - silih asih-asah dan silih asuh yang humanis harmonis, yaitu satu telaga kehidupan social (= Talaga Bandung) yang berasal dari kumpulan manusia yang bermacam corak ragam perangainya (= Citarum). Keutuhan jatidirinya pun harus dibentuk pula oleh Sang Ego sendiri (= pembuatan perahu).

Keberadaan Sang Ego itu pun tidak terlepas dari sejarah dirinya, ada pokok yang menjadi asal muasalnya (= Bukit Tunggul, pohon sajaratun) yang berasal sejak dari awal keberadaannya (= Timur, tempat awal terbit kehidupan) dan Sang Ego pun pada akhirnya akan mempunyai keturunan yang terwujud dalam masyarakat yad. dan semuanya berakhir ditelan masa menjadi setumpuk tulang-belulang (= gunung Burangrang). Betapa mengenaskannya, bila ternyata harapan untuk bersatunya Sang Ego dengan Sang Nurani yang tercerahkan ( = hampir terjadinya perkawinan antara Sangkuriang dengan Danghyang Sumbi), gagal karena keburu hadir sang titik akhir, akhir hayat dikandung badan (= Bo’eh rarang = kain kafan).

Akhirnya suratan takdir yang menimpa Sang Ego tidak lain hanyalah rasa menyesal yang teramat sangat dan marah kepada “dirinya”, maka ditendangnya keegoisan dirinya jadilah seonggok manusia transcendental yang tengah tertelungkup meratapi kemalangan yang menimpa dirinya (= Gunung Tangkubanparahu). Walau demikian lantaran masih merasa penasaran dikejarnya terus Sang Nurani yang tercerahkan (= Danghyang Sumbi) dengan harapan dapat luluh bersatu antara Sang Ego dengan Sang Nurani, tetapi ternyata Sang Nurani yang tercerahkan kini hanya menampakkan diri menjadi saksi atas perilaku yang pernah terjadi dan dialami Sang Ego ( = bunga Jaksi).

Akhir kisah dari Sang Ego (=Sangkuriang) yaitu datangnya kesadaran dengan berakhirnya kepongahan hawa nafsunya (=Ujungberung); dengan kesadarannya pula, dicabut sumbat dominasi keangkuhan rasio (= gunung Manglayang), melalui proses berkomunikasi yang santun dengan siapa pun (= Sanghyang Tikoro =tenggorokan; B.Sunda: Hade ku omong goreng ku omong) serta memperhatikan dan menjaga dengan seksama makanan yang masuk ke dalam lambungnya yaitu makanan yang halal dan bersih (=Sanghyang Tikoro = kerongkongan).

AKHIR WACANA

Seperti ditulis pada awal wacana, Hermeunetika adalah ilmu menafsirkan tentang sesuatu agar mempunyai arti dan makna, sehingga dapat dipetik manfaatnya. Oleh karena itu sangat bersifat subyektif dan inklusif, serta tetap terbuka bagi siapa pun untuk memasukkan tafsirannya secara pribadi. Boleh-boleh saja dan itu akan besar manfaatnya dalam membentuk masyarakat yang bermartabat.

Bandung, 18 April 2004

Hidayat Suryalaga - Mkl. 264

sumber : http://www.sundanet.com/?p=229